Selasa, 21 April 2009

JUSUF KALLA YANG MALANG

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merasa di atas angin, diapun menetapkan lima syarat untuk menjadi pendampingnya. Tidak secara nyata menolak Jusuf Kalla (JK), tetapi interpretasi masyarakat sangat jelas, SBY tidak akan berduet lagi dengan JK. Di internal Golkar sendiri beredar aspirasi, Akbar Tanjung (AT) akan diduetkan dengan SBY . Mantan seteru AT ini mungkin akan pulang kampung dan kembali ke dunia bisnis di mana ia memulai dan besar seperti sekarang ini.

JK adalah tipe pekerja keras, kadang-kadang karena sangat aktif dalam pengambilan keputusan ia seperti melewati wewenangnya sebagai wakil presiden, sehingga diawal-awal pemerintahan SBY-JK sudah beradar istilah “Matahari Kembar”. Bahkan untuk menandingi pengaruh JK, SBY kemudian membentuk Unit Kerja Presiden Untuk Pengelolaan Program dan Reformasi (UKP3R) yang diketuai Marsillam Simanjuntak, melalui Keputusan Presiden No.17 tahun 2006. Pembentukan lembaga ini mendapat protes langsung dari JK dan sempat terjadi perang dingin anatara SBY – JK. Sejak itu UKP3R tidak terdengar gaungnya.

Politik pertarungan didalam lembaga kepresidenan antara presiden dan wakil presiden terus terjadi dalam pengambilan keputusan krusial, terutama dalam dua tahun pertama pemerintahan ini, seperti terjadinya dua kali resuffel kabinet yang menambah porsi Golkar di Kabinet dari komposisi awal pembentukan kabinet.

Setelah resufel kabinet kedua terjadi, pemerintahan SBY-JK mulai kelihatan kompak tetapi kembali mencuat suasana panas ketika seorang Senator Demokrat dari Amerika Serikat mengusulkan SBY sebagai penerima Nobel Perdamaian Dunia atas perdamaian di Aceh. JK merasa dia dan timnyalah yang berkeringat sejak dari inisiatif perdamaian hingga penggalangan dukungan internasional. Beruntung SBY membuat keputusan blunder dengan menolak grasi dari Tibo Cs dari hukuman mati. Nobel perdamaian akhirnya jatuh ketangan Yunus Muhammad.

Tapi seiring makin kompleksnya permasalahan Negara, dan makin kuatnya portfolio yang dipegang Golkar sebagai the ruling party, pemerintahan semakin stabil dengan bumbu-bumbu persaingan yang semakin menghilang. Mungkin strategi inilah yang dipakai oleh SBY untuk mengalahkan JK, ia mulai merangkul menteri-meteri baik dari Golkar maupun dari partai pendukung koalisi lainnya. Ia mulai bertindak sigap dalam setiap pengambilan keputusan, untuk mematahkan anggapan yang sudah keburu melekat dibenak masyarakat, bahwa SBY seorang peragu. Mungkin juga kalau presiden tidak hati-hati dalam pengambilan keputusan bisa saja kebijakan JK menjadi blunder bagi pemerintahannya.

Perlahan tapi pasti, pertarungan antara keduanya mulai meredup, terutama setelah menko dan menteri keuangan dipegang oleh professional non partisan. Tetapi peran JK dalam ekonomi sangat jelas dan dominan dibanding SBY.

Entah karena terlalu percaya diri atau terlalu konsentrasi dengan tugas kenegaraan, JK lupa melakukan konsolidasi kedalam partainya, ditambah banyak kader partainya yang kena masalah korupsi, calon-calon Golkar di Pilkada bertumbangan, sehingga sering muncul desakan agar ketua umum ditinjau ulang terutama dari kelompok Akbar Tanjung yang tidak puas dengan kinerja JK di partai, tetapi cemerlang di pemerintahan.

Tentu kita masih ingat pernyataan dari Syamsul Ma’arif (Buya Hamka), tehknokrat Muhammadiyah, “JK the Real President”, yang mendapat reaksi keras politisi Demokrat Anas Urbaningrum, dan tanggapan sinis dari AT, “JK senang disebuht the Real President”, menanggapi reaksi JK yang biasa-biasa saja dengan peryataan Buya itu.

Soal kenaikan BBM dua kali yang spektakuler JK juga pasang badan sementara SBY, seperti menjaga citra mewakilkan pengumuman kenaikan BBM ke Menteri ESDM dan menteri Keuangan, sementara di media JK membela habis-habisan keputusan kenaikan BBM itu, dan sebagai solusi amarah rakyat keluarlah istila, Bantuan Lansung Tunai (BLT) yang juga diusulkan oleh JK. Tetapi ketika harga BBM turun sampai tiga kali, SBY perkasa tampil di depan podium dengan wajah cerah penuh sumringah mengumumkannya.

Disinilah kekalahan JK, ketika keputusan yang diambil pahit, nama JK melakat di benak masyarakat sebagai tidak pro rakyat dan menjadi bumper di parlemen untuk menghalau oposisi, tetapi begitu hasil dari keputusan itu ternyata sangat berguna bagi Negara nama SBY menjadi pahlawan di benak Masyarakat. Soal pencitraan SBY adalah jagonya, ibarat seorang munafik, menjadi pahlawan diatas kerja keras orang lain.

Maka tidak heran ketika Lee Kuan Yu berkunjung ke istana Wakil Presiden, Lee mengatakan “sayang anda bukan Presiden” sebuah ungkapan yang bisa diterjemahkan bahwa JK punya kapasitas untuk menjadi Presiden.

Spontanitas JK, juga sangat efektif dalam mengatasi masalah, dalam bisnis dan ekonomi, politik melawan oposisi ia turun ke lapangan, membantah dan memberi perlawanan dengan bukti-bukti emperis di media . Dalam mengatasi kelangkaan Gas, konversi minyak tanah ke Gas, kasus LNG tangguh, hemat listrik, anjuran pemakaian sepatu buatan dalam negeri kepada jajaran pegawai negeri, sangat efektif untuk menanggapi dan mengkounter isu-isu yang hangat di masyarakat. JK bukan pencundang yang terus berada di istananya, tetapi ia keluar memberi solusi terhadap masalah yang dihadapi pemerintah. Tak jarang aktivitasnya dicurigai oleh lingkar dalam presiden SBY.

Tiga bulan sebelum pemilu legislative, kelihatan jelas bahwa JK masih ingin melanjutkan tugasnya sebagai Wakil presiden, sekalipun ada tokoh Golkar yang tidak menerima ide hanya sebagai Wapres saja, untuk partai sebesar Golkar. Golkar merasa bahwa keberhasilan pemerintah yang sebagian besar juga disumbangkan oleh kader Golkar, tapi diklaim habis-habisan sebagai prestasi SBY semata.

Klimaks pertarungan SBY – JK berawal dari pernyataan Achmad Mubarok salah satu petinggi Partai Demokrat, “bila Golkar hanya dapat 2,5% suara legislative, Partai Demokrat akan meninggalkan Golkar”. Pernyataan itu sontak mengubah peta politik dari semula JK masih ingin menjadi wakil presiden berubah haluan. Iklan lebih cepat lebih baik, prestasi perdamaian dan stabilitas Negara mulai diklaim Golkar, tapi sudah terlambat karena mereka kalah dengan kecepatan Partai Demokrat.

Rendahnya perolehan suara Golkar menjadi titik balik bagi Golkar untuk mengurungkan niat mencalonkan presiden sendiri, maka pilihan yang realistis adalah kembali lagi ke SBY. Tapi sayangnya SBY merasa menjadi pria yang ganteng sekali, sehingga ia bebas menentukan siapa calon “istrinya”. Disinilah nasib JK digantung sebagai balas demdam atas segala perbuatan JK selama ini. Sekalipun perbuatan itu untuk kebaikan bangsa dan Negara.

Seandainya JK terpental dan diganti oleh tokoh lain Golkar sebagai pasangan SBY, maka tamatlah riwayat politik JK, ia akan terbuang menjadi tokoh biasa yang tidak punya pengaruh lagi. Kecuali dalam bisnis tentunya. Tapi kalau SBY tidak berpasangan lagi dengan JK, kemungkinan besar kinerja SBY tidak secemerlang ketika ia berpasangan dengan JK. Karena memang sosok JK sangat penting peranannya dalam prestasi ekonomi pemerintahan SBY – JK saat ini. Sekalipun keberhasilan itu semu seperti pendapat ahli ekonomi, misalnya BLT dibiayai oleh utang luar negeri.

Bagi saya JK lebih baik tidak mengemis kepada SBY untuk menjadi wakil presiden, serahkan saja kepada tokoh lain di Golkar, dan kembali mengurus bisnis. Daripada berpasangan kembali dengan SBY tetapi dipasung kreatifitasnya di pemerintahan mendatang. Dan SBY mestinya harus rendah hati mengakui bahwa kepiawaian JK belum ada tandinganya di negeri ini. Jika SBY jujur, mestinya ia akan kembali menawarkan kepada JK posisi Wakil Presiden karena ia kompeten dan bertanggungjawab.

Senin, 13 April 2009

SIAPA YANG BISA MENGALAHKAN SBY?

Peningkatan perolehan suara legislatif Partai Demokrat (PD) yang sangat luar biasa dengan kenaikan 300% sudah diprediksi sebelumnya, berbagai survei yang diadakan sebelum pemilu 9 April berlangsung, PD sudah menempati urutan teratas dalam berbagai survei nasional.

Bahkan keretakan SBY – JK berawal dari kutipan hasil survei yang dikemukakan Ahmad Mubarok dengan nada setengah bercanda dengan menyebut, “ bila suara Golkar di pemilu legislatif hanya 2,5%, PD akan meninggalkan partai Golkar”.

Dalam perhitungan cepat yang dilakukan pasca pemilu 9 April 2009 lalu 4 lembaga survei terkemuka menampatkan PD diurutan teratas. Dan dalam penghitungan di pusat tabulasi KPU PD juga berada diurutan teratas dengan perolehan suara DPR diatas 20%.

Kemenangan PD ini sekaligus merefleksikan bahwa sosok SBY merupakan faktor kunci pendongkrak perolehan suara PD tersebut, mengingat di PD sendiri masih terbatas tokoh-tokoh yang punya jam terbang tinggi dalam politik bila dibandingkan misalnya dengan Golkar, PDIP dan PPP.

Sekalipun pelaksanaan pemilu legislatif yang menurut sebagian orang sangat amburadul, tidak professional, bahkan ada dugaan kemsemrawutan ini sengaja dipelihara untuk memenangkan partai tertentu.

Terlepas dari dugaan-dugaan kecurangan pemilu, penjajakan antar partai intensif dilakukan sejak hasil Quick Count diumumkan media massa. Jelas terlihat partai-partai mana yang akan merapat ke PD dan partai-partai mana yang akan merapat ke PDIP. Maka dugaan berbagai kalangan jauh sebelum pemilu berlansung bahwa akan ada pertarungan babak kedua antara Megawati dan SBY makin mendekati kenyataan.

Hingga saat ini hampir pasti ada 2 blok yang sudah intensif melakukan penjajakan, blok pertama yaitu PD (20.34%) dengan delapan mitra koalisinya yakni: Golkar (14.85%) , PKS (7.82%), PAN (6.07%), PPP (5.29%), PKB (5.20%), PBB (1.65%), PKNU (1.37%), kecuali PKS yang menebar ancaman akan keluar dari koalisi bila SBY – JK dipasangkan kembali dalam Pilpres 2009 mendatang. Total gabungan suara kedelapan partai ini adalah sekitar 63% artinya hanya ada sisa 37% yang akan menjadi oposisi, kecuali PKS benar-benar keluar dari koalisi ini maka komposisi calon pemerintah dengan calon oposisi menjadi 55:45. Tetapi bila kedelapan partai ini sepakat membentuk koalisi bersama maka hampir dapat dipastikan hanya akan ada dua pasang dalam pilpres Juli mendatang.

Blok kedua adalah PDIP (14.07%) dengan dua mitra utamanya, Gerindra (4.20%) dan Hanura (3.49%) dengan total gabungan suara 21,76%. Pertarungan kedua blok ini sekaligus menutup peluang pasangan ketiga dan keempat dalam pilpres yang akan datang, bila benar-benar terwujud.

Dari blok pertama sudah pasti akan mencalonkan SBY – dan hampir pasti akan diduetkan kembali dengan JK. Sedangkan dari blok kedua ada ego besar dari leader oposisi yaitu PDIP. PDIP sudah pasti akan menawarkan posisi presiden, dan wakil presiden dari mitra koalisinya bisa saja Prabowo atau mungkin juga Wiranto. Bila skenario ini terjadi sekaligus juga menutup peluang Sultan Hamengkubuwono X menjadi cawapres dari Megawati, ini juga bila skenario ini benar-benar terwujud.

Tetapi koalisi 2 blok ini bisa saja tidak berjalan mulus, dan akan melahirkan minimal satu blok lagi atau maksimal 2 blok. Sebagaimana disebutkan di atas gabungan 2 blok besar diatas sudah mencapai 85% suara di DPR. Artinya masih ada 15% suara yang mengambang, tarik menarik antara kedua blok besar inilah yang nantinya bisa menghasilkan satu atau 2 blok baru.

Faktor pertama, PKS bisa keluar dari koalisi PD karena tidak puas dengan fortfolio 2 atau 3 menteri yang ditawarkan PD kepada PKS. Faktor kedua bisa saja grass root kedua partai Gerindra dan Hanura tidak menghendaki Prabowo dan Wiranto menjadi wakil presiden dari Megawati. Misalnya bila Prabowo bisa mempengaruhi Hanura dan menawarkan wakil presiden misalnya ke Tifatul Sembiring, atau kepada Rizal Ramli otomatis akan muncul satu blok baru lagi. Demikian halnya juga bila Golkar merasa bahwa berkoalisi dengan PD akan menyuramkan masa depan Partai Golkar di pemilu 2014, maka bisa saja akan muncul satu blok lagi. Maka suasana pilpres Juli mendatang akan semakin menarik karena akan ada 4 pasangan yang akan berlaga. Sekaligus membuka peluang Pilpres berlansung dalam dua putaran.

Tetapi dengan tingkat popularitas SBY saat ini yang menempati peringkat teratas, partai seperti Golkar, PAN, PKB, PPP, PKS, PBB, PKNU, akan lebih baik bergabung dengan rombongan calon pemerintah dibandingkan bergabung dengan calon oposisi yang hanya berada ditempat kedua. Karena oposisi sejati hanya mungkin disandang oleh PDIP.

Maka kemungkinan ter - akurat dari berbagai skenario di atas adalah pertarungan antara blok PDIP dan blok PD. Dan kalau pertarungan ini terjadi tanpa pasangan ketiga, dapat dipastikan pemenangnya adalah SBY, bila lawan tandingnya adalah pasangan Megawati – Prabowo, atau Megawati – Wiranto. Akan tetapi bila hal ini terjadi akan menghemat biaya pemilu, karena kemungkinan pemilu hanya satu putaran saja.

Untuk membendung kekuatan SBY ini maka harus ada minimal 3 pasangan capres/cawapres. PDIP harus menempatkan dua kadernya di dua pasangan yang berbeda sama seperti skenario Hamzah Haz – Agum Gumelar. Misalnya PDIP harus mampu menyakinkan partai diluar blok PD untuk sepakat mencalonkan 2 pasangan capres tetapi merupakan satu kesatuan. Kombinasi pertama adalah Megawati – Wiranto, atau Megawati – Sultan. Kombinasi kedua adalah Prabowo – Puan Maharani, atau Sultan – Puan Maharani. Tujuan skenario ini memecah suara sehingga ada kemungkinan pilpres berlangsung dalam dua putaran. Jadi siapapun yang lolos keputaran kedua otomatis akan mendapat dukungan dari yang kalah.

Skenario ketiga Megawati sama sekali tidak ikut dalam bursa pilpres 2009, tetapi menempatkan Puan Maharani sebagai wakil presiden dari calon presiden yang disepakati bersama dengan mitra koalisi apakah Prabowo atau Sultan. Skenario ini mempunyai nilai jual yang luar biasa dibandingkan dengan dua skenario di atas. Dan bila ini terjadi, pasangan ini akan mendapat iklan gratis dari media massa, dan berpotensi besar mengalahkan pasangan SBY.

Skenario ini sekaligus menyempurnakan strategi McCain – Sarah Palin yang sekarang sedang giat dibicarakan untuk menduetkan Megawati – Prabowo. Kalau pasangan Mega – Prabowo dipaksakan, maka nasib pasangan ini akan berakhir seperti MCcain – Sarah Palin.

Intinya bila ingin mengalahkan SBY, jangan menduelkan kembali Mega dengan SBY, harus ada calon alternatif yang bisa diblowup media massa secara massif. Maka bila skenario ini tidak tercapai lebih baik Prabowo membangun koalisi dengan PKS, dengan kombinasi pasangan Prabowo – Hidayat Nurwahid atau Prabowo – Tifatul Sembiring. Karena saat ini faktor Prabowo mempunyai nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan calon-calon lain di luar SBY.

Catatan:

Perolehan suara partai di atas diambil dari hasil Quick Coun Lingkar Survei Nasional (LSI)

Jumat, 27 Februari 2009

Buy American. I Am.

Oleh: WARREN E. BUFFETT, diterjemahkan dari artikel yang dimuat di Newyork Time edisi 17 Oktober 2008


Omaha

Sistem keuangan dunia sedang kacau, baik di Amerika Serikat dan dunia lain. Itu adalah masalah, lebih lagi sudah menjadi kebocoran ekonomi umum, dan kebocoran itu sekarang beralih menjadi perasaan yang tidak terkendalikan. Dalam jangka pendek, pengangguran akan meningkat, aktivitas bisnis akan terhuyung-huyung dan headline di media akan berlanjut menjadi menakutkan.


Jadi.. saya telah membeli saham saham America. Saya sedang membicarakan urusan pribadi saya, yang mana sebelumnya saya tidak memiliki apa-apa kecuali Obligasi pemerintah Amerika Serikat. (penjelasan ini berada diluar perusahaan Berkshire Hathaway, yang sudah berkomitment untuk kegiatan amal) Jika harga-harga kelihatan masih menarik, maka kekayaan bersih non Berkshire akan menjadi 100% dari kekayaan Amerika Serikat.


Mengapa?


Aturan sederhana saya dalam berinvestasi: “Takutlah ketika orang lain tamak, dan tamaklah ketika orang lain dalam ketakutan”. Dan sekarang ketakutan sedang menyebar kemana-mana, mencengkeram sekalipun ini waktunya investor. Yang pasti, investor punya hak untuk kuatir dengan tingginya pinjaman perusahaan-perusahaan atau bisnis sedang dalam posisi yang lemah dalam kompetisi. Tetapi ketakutan terhadap kesejahteraan bangsa dalam jangka panjang kelihatanya perusahaan-perusahan membuat tindakan yang tidak masuk akal. Bisnis ini akan mengalami perlambatan pendapatan, seperti yang selalu mereka alami. Tetapi sebagian besar perusahan akan mencatat rekor laba bersih yang baru dalam lima, sepuluh dan dua puluh tahun dari sekarang.


Ijinkan saya menjalaskan masalah ini: saya tidak dapat meramalkan pergerakan jangka pendek pasar saham. Saya belum memutar ide karena apakah saham-saham akan bergerak lebih tinggi atau lebih rendah dalam sebulan atau setahun dari sekarang. Jadi seperti apa kemudian, apakah pasar akan bergerak lebih tinggi, barangkali secara substansi demikian, akan tetapi sebelum sentiment atau ekonomi berubah menjadi naik. Jadi jika anda menunggu bunga murai, musim semi akan berakhir.


Sedikit mengenai sejarah: selama depresi, DOW berada pada puncak terendah pada ,41, di 8 Juli 1932. Kondisi ekonomi, keras, terus berlanjut lebih buruk sampai Franklin D. Roosovelt menjabat presiden pada Maret 1933. Pada waktu itu, pasar sudah meningkat menjadi 30%. Atau sejenak pikirkan kebelakang pada awal perang dunia II, ketika segala hal menjadi memburuk di Amerika Serikat, Eropa dan Asia Pasifik. Hantaman pasar sampai ke titik bawah pada April 1942, itu sebelum kekayaan sekutu berubah. Lagi, pada awal 1980 an, waktunya membeli saham ketika inflasi tinggi dan ekonomi dalam tangki. Dalam jangka pendek, berita buruk ada teman dekat investor. Itu membuat anda membeli satu potong surat berharga Amerika yang harganya sedang menurun.


Melewati jangka panjang, pasar saham akan menghadirkan berita baik. Pada abad ke 20, Amerika Serikat bertahan dalam dua perang dunia dan pengalaman traumatis dan konflit militer; depresi, lusinan dan resesi dan kepanikan keuangan, harga minyak yang menggemparkan, flu epidemic, dan pengunduran diri presiden yang memalukan. Akan tetapi Dow naik dari 66 le 11.497.


Anda mungkin berpikir itu tidak akan mungkin bagi seorang investor kehilangan uang selama satu abad yang ditandai dengan keuntungan luar biasa. Tetapi beberapa investor melakukannya. Orang yang tidak beruntung membeli saham-saham hanya ketika mereka merasa senang melakukan hal itu dan kemudian menjual ketika headline membuat mereka muak.


Hari ini ketika orang memegang kas dan setara kas mereka merasa nyaman. Seharusnya tidak. Mereka memiliki kaca mata asset jangka panjang yang sangat buruk, sesungguhnya mereka tidak membayar apa-apa dan sudah pasti akan merendahkan nilai uangnya. Benar, kebijakan yang diikuti oleh pemerintah dalam usahanya untuk meredakan krisis yang sedang berjalan kemungkinan akan membuktikan efek inflasi, dan kemudian mempercepat penurunan nilai real dari kas.


Ekuitas hampir dapat dipastikan lebih bagus dibandingkan kas pada dekade berikutnya, mungkin dalam tingkat tertentu. Semua investor yang memegang kas sedang bertaruh seeficien mungkin dengan waktu dibandingkan dengan pergerakannya kemudian. Dalam menunggu berita bagus, mereka mengabaikan pesan dari Wayne Gretzky. “ Saya berski kemanapun kaki melangkah, bukan kemana seharusnya.


Saya tidak suka dengan opini pasar modal, dan lagi saya menekankan bahwa saya tidak memikirkan apa yang akan terjadi di pasar dalam jangka pendek. Meskipun demikian, saya akan mengikuti arah sebuah restoran yang dibuka di dalam sebuah ruang kosong di gedung bank dan membuat iklan. “ Tempatkan mulut anda dimana uang itu berada”. Hari ini uang saya dan mulut saya keduanya mengatakan ekuitas.


Warren E. Buffett is the chief executive of Berkshire Hathaway, a diversified holding company.

Jumat, 26 September 2008

LASKAR PELANGI: DEMOKRASI ALA BU MUSLIMAH

Hari ini saya sempatkan nonton Laskar Pelangi. Adaptasi dari buku Laskar Pelangi karangan Andreas Hirata alias IKAL dalam film. Buku heboh ini sudah sering saya dengar sejak muncul di acara Kick Andy yang kebetulan salah satu acara paporit saya. Mau tidak mau saya tahu apa judul bukunya dan tahu sedikit mengenai apa isi ceritanya serta siapa pengarangnya.


Tetapi saya tidak pernah berniat membeli buku tersebut karena saya sebagai orang desa langsung bisa menebak sebenarnya apa isi novel ini dari awal hingga akhir hanya dengan mendengar ucapan sipenulis dan saksi hidup yang diwawancarai, artinya buku ini terlalu nyata dan dialami mayoritas orang Indonesia sehingga bukan cerita baru lagi tetapi benar-benar adalah kisah sehari-hari sebagian besar penduduk Indonesia.


Beberapa minggu yang lalu, di Kick Andy muncul lagi gema Laskar Pelangi tetapi kali ini bukan buku lagi yang dibahas tetapi sudah bermetamorfose menjadi sebuah film yang digarap oleh sutradara papan Atas Riri Reza dan Produser Mira Lesmana ditambah lagi dengan sound effectnya diisi juga oleh band papan atas, Nidji. Jadi lengkaplah sudah cerita yang bersetting kemiskinan dan pelosok dipoles menjadi film yang dibintangi oleh bintang papan atas. Sehingga kualitas filmnya menjadi tidak meragukan lagi begitulah dugaan saya, ketika bintang-bintang pendukungnya dimunculkan satu persatu di Kick Andy. Tapi saya juga yakin bahwa itu adalah iklan agar film ini bisa meledak, setidaknya mengimbangi filam Ayat-ayat Cinta besutan Hanung Bramantyo.


Setting film ini dimulai tahun 1974 di Bangka Belitung, SD Muhammadiyah adalah tempat film ini dimulai, dengan tiga orang guru, dan 10 orang siswa. Kepalanya Pak Cik…siapa ? lupa namanya..habis tidak baca novelnya sih.. ada Bakrie dan Bu Muslimah. Sedari awal sekolah ini seperti tidak diinginkan karena tidak mendukung lagi, baik dari gedung maupun minat anak-anak untuk sekolah disitu. Tetapi ditempat yang tidak jauh dari sekolah tersebut ada SD PN Timah yang mencolok perbedaanya.


Salah satu yang menarik dari film ini adalah cara Bu Muslimah membentuk tim Karnaval untuk acara HUT RI yang jatuh pada 17 Agustus. Bu Muslimah memilih Mahar yang selalu menggendong Radio kemana-mana dan kemudian menyerahkan tanggungjawab padanya untuk membuat acara apa yang akan ditampilkan pada acara karnaval tersebut. Saya tidak tahu apakah ada perubahan antara novel dan isi film. Tetapi menurut saya demokrasi ala Bu Muslimah ini terlalu maju pada saat itu dan tanggung jawab itu diserahkan kepada seorang anak yang baru menginjak kelas lima SD.


Inilah satu dari sekian banyak adegan yang menggugah saya untuk berpikir. Kalau Bu Muslimah benar berlaku seperti dalam film itu mengajar, maka sebenarnya orang-orang Indonesia sudah maju dalam berpikir dan berdemokrasi pada tahun 1974 tetapi tidak diikuti oleh sikap pemimpin yang masih ingin menambah kekayaan dan kekuasaan seperti kata Pak Cik. Karena selama ini guru adalah monster yang bisa membuat cita-cita terkubur dalam-dalam lewat tekanan dan diskriminasi, sehingga sekolah bukan lagi produsen pemikir tetapi menjadi produsen kegagalan dan kejahatan.


Cara-cara yang diterapkan Bu Muslimah itu bagi saya terlalu maju, sehingga saya terkagum-kagum dengan sikap itu. Tetapi saya juga yakin kalau Bu Muslimah tidak mengajar seperti itu, dia mungkin sudah dilupakan oleh seorang Andreas Hirata dan murid-murid yang lain. Inilah yang saya sebut sebagai generasi cemerlang tetapi dikubur dalam-dalam oleh kekuasaan , melalui system feodal yang masih berlaku sampai saat ini lewat birokrasi Departemen Pendidikan. Semua diseragamkan dari pusat sampai ke pelosok sehingga kreatifitas seperti yang dimiliki oleh Bu Muslimah hangus dan akibatnya satu generasi juga hangus. Maka tidak herang kalau sekarang ini masyarakat Indonesia tidak mengalami kemajuan yang berarti bila dibandingkan dengan Negara-negara tetangga seperti Malaysia.


Orang-orang seperti Bu Muslimah jarang ada, ia muncul karena tidak terjangkau oleh tangan kekuasaan maka ia menjadi pahlawan bagi anak didiknya. Ketika kreatifitasnya mampu mengangkat moral anak-anak untuk bercita-cita. Anak-anak dididik bukan dihukum, diajar untuk mengerti bukan dihajar untuk mengerti. Maka sejauh apapun Andreas Hirata menempuh pendidikan ia lebih memilih mengangkat cerita sederhana dari sosok Bu Muslimah.


Bercita-citalah.., Banyaklah memberi, jangan banyak meminta inilah tagline film ini. Sederhana tetapi juga melahirkan perenungan mendalam, generasi yang muncul keatas bukan karena campur tangan pemerintah tetapi karena keteguhan dan hubungan yang sehat antara murid dan guru. Hubungan yang saling membangkitkan, ketika anak-anak tidak semangat masih ada Bu Muslimah yang sabar, ketika Bu Muslimah putus asa ditinggal Pak Cik, masih ada anak-anak yang punya hasrat untuk mimpi-mimpi mereka.


Saya hanya berpikir bila ada 1000 Bu Muslimah di tahun 1974 mungkin Indonesia sudah menjadi Negara adidaya yang setara dengan Amerika.


Film ini sebenarnya tanpa diperankan oleh orang-orang sehebat Cut Mimi sudah terpatri kedalam hati, tetapi dengan totalitas bintang Jakarta bisa nyambung dengan totalitas anak Bangka Belitung adalah ide Jenius si Sutradara. Hanya satu yang saya sesali setelah menonton film ini. Kenapa dari dulu saya tidak membeli novelnya…

Selasa, 05 Agustus 2008

REFLEKSI LIMA TAHUN PERANG AS - IRAK

PIDATO SBY MENGENAI PERANG AS - IRAK - SERI III (TERAKHIR)


Secara keseluruhan, isi pidato SBY tentang kemungkinan serangan AS terhadap Irak tidak lebih dari pada sebuah overview, pandangan seorang Menko Polkam di Kabinet Megawati. Sikap yang tidak jelas ini bisa dimaklumi karena seorang Menteri tidak mungkin mendahului sikap Negara yang dalam konteks ini dipimpin oleh seorang Presiden. Dan pada saat seminar ini diadakan, perang belum terjadi.

Berikut ini adalah sesi terakhir dari Pandangan SBY mengenai perang AS – Irak

Global Economy tidak akan masuk dalam wilayah ekonomi, saya kira teman-teman akan mengangkat isu itu. Tetapi saya mempunyai pengalaman sebagai Menteri Pertambangan dan Energi, kalau terjadi sesuatu di Timur Tengah kekuatan Irak plus Iran plus Bahrain plus Libia itu semua negara OPEC, itu sudah sangat berpengaruh kalau mereka melakukan pemotongan produksi akibatnya harga akan melambung tinggi. Apalagi kalau pihak Saudi Arabia pada pihak yang netral atau anti perang Amerika Serikat terhadap Irak bisa dibayangkan bahwa 70% contributing nation didalam produksi minyak ini akan merupakan sumber krisis minyak sedunia.

Masalah Trading, Ekspor, saya kira pasar-pasar akan tertutup, kemudian bisa dari sesi segala macam saya tidak ingin masuk disitu, teman-teman ekonomi nanti yang akan membahasnya. Tetapi implikasi ini pada tingkat Global and Regional bisa politik, ekonomi, kemanusiaan.

Dua agenda terakhir implikasi terhadap Indonesia jika Amerika Serikat menyerang Irak, ada yang direct ada yang inderect. Direct implication yang langsung akan ada ketegangan politik didalam negeri kita. Pengalaman dulu kami dan teman-teman mengelola politik domestik ketika Amerika menyerang Afghanistan, kami menghadapi tiga kelompok masyarakat waktu itu.

Kelompok pertama yang sangat anti serangan Amerika terhadap Afghanistan, mereka memaksa kami untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat, memboikot barang-barang Amerika Serikat, mengirimkan sukarelawan jihad dan segala macam kami hadapi. Hampir pasti kalau ini terjadi lagi kami menghadapi hal seperti itu.

Kelompok kedua yang kami hadapi waktu itu adalah kelompok yang diam-diam setuju dengan serangan Amerika terhadap Afghanistan tapi biasanya diam. Jadi nanti kalau AS menyerang Irak hampir pasti ada kelompok yang sudahlah tidak apa-apalah tetapi biasanya diam. Nah mayoritas sebenarnya tidak suka dengan serangan yang sifatnya sepihak, lebih mendorong kepada peran PBB dan Collectivation.

Ada cara-cara yang lebih disepakati oleh masyarakat global ini mayoritas biasanya, dan mayoritas yang lain tidak peduli yang penting hidup aman dan sejahtera. Posisi kita, respon kita ini harus mencerminkan mayoritas bangsa kita bertumpu pada prinsip-prinsip hubungan international, bertumpu pada politik bebas aktif dan tunduk pada resolusi DK PBB. Itulah faktor-faktor yang akan kami jadikan landasan ketika kami nanti harus menyampaikan secara formal posisi, sikap dan respon Pemerintah Republik Indonesia. Implikasi yang lain tentu “mass social protest, kemudian dengan kejadian di Bali ini memberikan suatu warning, hampir pasti sangat mungkin terjadi kalau Amerika menyerang Irak kali ini akan ada the act of terrorism darimanapun datangnya terhadap sasaran-sasaran Amerika yang ada di Indonesia. Bukan terorismenyapun akan ada langkah-langkah yang keras dan secara pisik terhadap Amerika Serikat.

Kemudian ada yang tidak langsung jika Pemerintah Indonesia melawan inisiatif Amerika Serikat menyerang Irak ini, keras kita, mengecam dan segala macam secara formal itu pasti ada implikasi minimal pada Ekonomi. Ingat ada World Bank, IMF, CGI, Paris Club itu dibelakangnya paling kuat itu adalah Amerika Serikat. Ada Cost yang kita dapatkan nanti

Kalau itu pilihan kita, kita lakukan tetapi siap-siaplah pilihan itu ada Costnya, jadi menurut saya permasalahannya bukan berani apa tidak berani. Tetapi sekali kita memilih pilihan nanti dan itu posisi Indonesia secara resmi marilah kita siap-siap menghadapi kost itu, jangan sampai Pemerintah diminta untuk memutuskan hubungan dengan Amerika Serikat . Tetapi ketika kita mendapatkan kesulitan ekonomi secara instan kita disalahkan. Ya Pokoknya lawan Amerika Serikat tetapi jangan sampai ada implikasi apapun dibidang ekonomi dan sebagainya (illogical). Itulah nantinya yang dalam sebuah transparansi akan kami jelaskan. Oke, kalau pilihan kita ini, ini costnya, ini implikasinya. Oleh karena itulah Pemerintah tidak ingin gegabah, akan membangun sikap posisi yang setepat-tepatnya for the seek of depending of own national interest, jangan sampai ada perang di dunia lain yang menderita malah kita sendiri, kita perang sendiri artinya susah sendiri, marilah kita menjadi Bangsa yang cerdas kita memainkan peran kita untuk sebuah moralitas hubungan international tetapi jangan sampai salah atau gegabah didalam mengembangkan sikap kita, kita menjadi susah dan lebih susah dibandingkan dengan negara-negara yang berperang itu sendiri. Ini bisa terjadi oleh karena itu harus rumuskan secara baik-baik kita punya posisi.

In Posted meaning, ini biasanya teman-teman bisnis ini masalah opportunity creation, ini menarik dan saya senang kalau pengusaha didalam negeri, pengusaha pejuang mulai memikirkan kalau ada konflit di dunia lain dapat sesuatulah kita, bukan kita senang-senang ketika bangsa lain berperang, bukan. Tetapi saya beri contoh kongkrit di Kamboja, saya ke Kamboja tahun 1992 saya berbicara dengan calon Dubes, belum Dubes waktu itu, saya bertanya Pak kita dapat apa?, waduh kita tidak dapat apa-apa. Yang dapat itu Francis, Australia, Jepang, Thailand. Transportas, komunikasi, tambang, Indonesia gigit jari. Padahal Indonesia itu orang ketiga chief of Staff, Indonesia mengirimkan empat (4) batalion, Indonesian contingent, Indonesia mengirimkan Civilian Police, Kapolda Pohn Pehn dulu orang Indonesia. Indonesia luar biasa tapi tidak dapat apa-apa. Di Bosnia juga sama, saya di Bosnia dulu kita mengirimkan one engineer batallion, one medical batallion, Civilian Police, A Military surplus dan diakui di Bosnia nama kita harum tapi tidak dapat apa-apa kita. Tolong kalau kita berkontribusi mesti dapat, kebetulan kita tidak ikut-ikutan ini perang irak ini, tetapi kalau teman-teman pengusaha dapat luar biasa. Ya mudah-mudahan karena yang jelas kita berkontribusi saja dulu kurang cekatan, bukan berarti kesalahan pengusaha, mungkin informasi, mungkin peran Pemerintah waktu yang kurang dan sebagainya.

Dari situ maka yang terakhir adalah posisi, peran dan langkah diplomatik Pemerintah Indonesia yang jelas kita akan aktif di PBB, untuk mendorong PBB take charge, mendorong PBB untuk berpegang teguh pada Resolusi yang telah dikeluarkan sendiri. Kita akan aktif di Forum OIC (Organisation of Islamic Confrence), kita akan aktif disana menyatukan sikap berkomunikasi dengan Irak, dengan Amerika, dua-duanya dikasi tahulah akibat-akibat jika perang terjadi, di tingkat Gerakan Non Blok juga sama. Dan kegiatan diplomatik langsung bisa juga dilakukan ke Amerika Serikat. Jadi kalau Amerika Serikat mengatakan kami mendukung integritas teritorial anda di Aceh, kami dukung anda mengembangkan Daerah Otonomi Khusus di Aceh, tetapi mengapa anda tidak menempuh cara-cara wishful untuk Aceh I was thought by the US, by foreign countries, almost teman-teman di Luar Negeri selesaikan Aceh secara wishfull by the same token semangat ini bisa kita sampaikan kepada beliau-beliua. Dan ingat ya ini perang dengan Irak, jangan dibayangkan sama dengan perang dengan Afghanistan kemarin, jangan dibayangkan perang Irak tahun 1991. Sebelum pada saat setelah perang ini memerlukan suatu energi yang luar biasa, ini bisa kita gunakan sebagai bahasa untuk berkomunikasi dengan Amerika Serikat.

Minggu lalu saya bertemu dengan Dubes Boyce kita diskusi juga, Boyce menanyakan bagaimana pandangan Indonesia kalau Amerika menyerang Irak, saya sampaikan secara gamblang, terus terang, ya mayoritas tidak happy, minoritas bahkan akan menentang meskipun ada juga yang pro anda tetapi tidakkah bisa meggunakan PBB, tidakkah mengembangkan peluang yang masih ada sebelum keputusan perang diambil. Tadi malam dalam working dinner dengan Perdana Menteri Goh Chok Thong, Goh Chok Thong mengangkat masalah ini, kita diskusi bagaimana pandangan Indonesia kalau betul-betul Amerika Serikat menyerang Irak.

Diplomatik langsung kepada Irak juga penting, saya kira sama-sama tidak mudahnya Negara kita Indonesia dalam posisi sekarang ini dalam posisi yang sedang repot, kita juga belum sepenuhnya mengatasi persoalan dalam negeri kita untuk katakanlah membujuk Amerika dan Irak sesuatu yang tidak mudah, tetapi kewajiban kita sesuai dengan politik bebas aktif kita peran international Indonesia, hal-hal itu akan kita lakukan. Itulah hadirin sekalian suatu overview suatu pemetaan apabila Amerika Serikat menyerang Irak dan kemudian apa implikasinya pada tingkat global, regional, dan dalam negeri kita sendiri. Semoga pikiran saya yang telah saya sampaikan ini menambah rujukan nanti ketika diskusi dilanjutkan sesuai dengan topik-topik yang sudah diacarakan oleh panitia. Saya ucapkan terimakasih atas kesabaran hadirin sekalian untuk mendengarkan penjelasan saya, ucapan terimakasih kepada, LPSI, PDBI khusus kepada senior yang telah mengundang kami untuk bisa berkontribusi dalam seminar yang penting ini. Sekian, Wabillahi taufik walhidaya wassalamualaikum warah matullahi wabarkatu.

Jumat, 01 Agustus 2008

PIDATO SBY SEBELUM AMERIKA SERIKAT MENYERANG IRAK

REFLEKSI 5 TAHUN PERANG IRAK - SERI II

SBY dalam memandang sebuah kasus sangat complete dan integrated. Ini bisa dilihat dari pandangan beliau mengenai apa faktor penghambat dan pendorong AS menyerang Irak dan apa dampaknya, dibahas secara detail dalam pidato singkatnya. Sehingga kalau dilihat sekarang ketika beliau sudah menjadi Presiden, sangat jelas senjata utamanya dalam menghadapi permasalahan selalu berpijak pada landasan teori yang sempurna. Tetapi dalam tataran praktis tidak ada teori yang seratus persen benar bahkan bisa sebuah praktek keluar dari teori tetapi justru efektif.

Sikap hati-hati inilah yang memperlihatkan kepada public “seolah-olah SBY tidak tegas”. Sehingga ketika berhadapan dengan seorang JK yang gebrak dulu baru buat landasan teorinya – keduanya seolah-olah berseberangan.

Berikut ini adalah kelanjutan Pidato singkat SBY mengenai kemungkinan perang AS – Irak (seminar diadakan sebelum perang benar-benar terjadi- red) Ini merupakan refleksi 5 tahun perang AS – Irak yang sampai saat ini belum berakhir.

Kita bicara faktor penghambat, apa yang merintangi Amerika Serikat tidak serta merta menyerang Irak tapi sekaligus faktor pendorongnya apa? Yang bisa memanaskan pikiran Washington DC, kemudian mengambil keputusan untuk attact Iraq, good be today, good be tomorrow, good be next month dan seterusnya. Lantas baru kita masuk sisi implikasi, implikasi secara global seperti apa, secara regional juga seperti apa khususnya pada kawasan Timur Tengah. Implikasi terhadap Indonesia yang diinginkan oleh seminar ini juga seperti apa dan yang terakhir laporan saya kepada hadirin sekalian bagaimana sebenarnya posisi, peran dan langkah diplomatik Indonesia untuk mencegah perang Irak. Tentu kita akan punya posisi, sikap dan respons jika perang Irak terjadi, jika Amerika Serikat betul-betul menyerang Irak. Inilah enam agenda yang saya mohon bisa mengisi ruang diskusi pada hari ini, namun demikian karena waktu yang terbatas. Saya hanya ingin mengangkat secara singkat, secara garis besar highlightnya saja dan kemudian kami serahkan kepada forum ini untuk pendalaman nanti pada sesi masing-masing.

Perkembangan di Irak

Kalau kita jeli mengamati hari-hari terakhir, minggu-minggu terakhir Irak menurut saya cukup cooperatif terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB 1441. Yang kedua ada deklarasi (disclosure) dari program pembangunan persenjataan di Irak, betul tidak betul, akurat tidak akurat nomor dua tapi yang jelas ada deklarasi tentang itu. Kemudian sisi lain dari Irak, Bangsa Irak bersatu apakah persatuan itu dalam arti artifisial atau karena “The strenght of Saddam Hussein Leadership” itu juga nomor sekian, tapi itulah yang terjadi di Irak sekarang ini.

Sedangkan di Amerika, saya kira belum ada perubahan signifikan dukungan rakyat dan dukungan kongres sangat besar untuk Amerika bisa melakukan serangan terhadap Irak meskipun ada shift (ada pergesaran) sikap Washington, saya menganjurkan hadirin membaca dokumen resmi Washington yang disebut, dengan “US National Security Strategic” yang dikeluarkan tiap tahun. Tahun ini bulan Oktober dikeluarkan, ada pelunakan sikap-sikap dan pandangan Amerika dalam konteks terorisme dan Irak disini, namun persiapan perang terus berlanjut. Saya kira kalau kita memotret sekarang dari setelit dikawasan Timur Tengah paling kurang ada deployment, ada penggelaran, satuan-satuan darat, laut, udara Amerika Serikat di Diego Garcia di Turki, di Kuwait, di Saudi Arabia, di Bahrain, di Qatar, di United Arab Emirate dan di Oman. Jadi sudah relatif melingkar mengepung posisi Irak sendiri. Itulah perkembangan terkini di Amerika Serikat.

Wacana Global Bagaimana?

Pada tingkat Global saya kira hampir semua tidak menghendaki terjadinya perang di Irak, kemudian disana sini sudah mulai ada protes, ada gerakan-gerakan massa yang bersifat “Anti American Attitude” dari banyak kelompok-kelompok masyarakat di banyak negara. Kemudian yang formal, Negara-negara mendorong sekali lagi peran PBB untuk lebih memilih aksi-aksi multilateral dibanding aksi-aksi yang unilateral.

Kemudian PBB sendiri setelah kita tahu perkembangan Irak terkini, perkembangan Amerika terkini, pada global bagaimana di United Nation New York sendiri. Resolusi sudah dikeluarkan 1441 itu baru dua bulan yang lalu tepatnya 8 Nopember 2002, intinya ya perkuat peran PBB kemudian berikan kesempatan pada Irak untuk melaksanakan disarmament, kemudian yang ketiga, perang adalah jelas-jelas jalan terakhir yang bisa ditempuh. Jadi inipun menurut saya langkah yang maju dari Dewan Keamanan PBB. Kemudian tentu kita tahu Dewan Keamanan PBB tidak bulat yang memiliki hak veto saja; Prancis, China, dan Rusia juga tidak serta-merta bisa setuju dengan pandangan Amerika dan Inggris, ditambah dengan anggota tidak tetap. Kemudian inspeksi berjalan terus bahkan sekarang ada reinforcement terhadap inspektur dari PBB itu termasuk peralatan dan sarana mobilitas, itulah perkembangan terkini.

Yang kedua kita musti tahu mengapa dan apa kepentingan Amerika Serikat menyerang Irak. Ada yang mengatakan yaitu sebagai konsekuensi perang melawan terorisme, sebagian mengatakan bukan, karena ada permusuhan parmanent/permusuhan tajam antara pemerintahan Bush baik junior maupun senior terhadap Saddam Hussein. Jadi ini permusuhan terhadap rezim yang berkuasa, lantas ini karena Irak bagaimanapun juga devoloping weapon of mass destruction. Dan orang mengatakan “all politic is local” itukan kepentingan Bush untuk tahun 2005, jadi orang sedang melihat sebenarnya apa atau Why Amerika begitu insist untuk menyerang Irak.

Kalau kita lihat perang lawan terorisme memang Amerika mengatakan atau mengkategorikan Irak sebagai rough state, yang kedua Bush mengatakan berkali-kali “the enemy of the United States, the enemy of free world” adalah “terrorism and country that is harboring terrorism” atau “that is sponsoring terrorism”, barangkali pada pengelihatan Amerika Serikat, Irak termasuk itu meskipun kalau kita mengikuti dinamika politik dalam negeri Amerika Serikat selalu ada The Hawks and the Dove, elang kelompok hard liner dan kelompok merpati yang lebih mengutamakan cara-cara yang damai. Rakyat melihat pertentangan kedua kelompok di Washington DC itu, mengatakan kelompok elang tidak selalu benar meskipun juga tidak selalu salah. “Kalau mengatakan bahwa menyerang Irak karena betul-betul Irak itu negara teroris”, salah kata pengkritik kelompok elang itu, tetapi benar bahwa harus ada decisive action toward Iraq dalam waktu yang tidak terlalu lama menurut mereka. Kemudian kelompok Merpati mengatakan jangan sembrono, jangan salah, ini beda sekali dengan perang di Afghanistan kemarin beberapa bulan yang lalu dengan opensif menyerang Irak, disitu betul tetapi rakyat mengatakan anda salah kalau mengatakan mengatasi atau menghadapi Irak cukup dengan containment, dikepunglah, dinetralisasi.

Inilah yang sedang berlangsung juga tarik menarik Tag of War di Amerika Serikat sendiri. Permusuhan dengan rejim berkuasa, orang bertanya betulkah ini karena Irak Teroris, karena Irak punya senjata pemusnah massal apa karena kebencian yang luar biasa terhadap Saddam Hussein, sehingga “The objective is not about combatting terrorism tetapi to throughaway the existing regim, the existing goverment”. Lantas pemusnahan senjata pemusnah massal Irak ini juga belum titik, masih koma betulkah Amerika puas nanti ketika tim inspeksi PBB menyimpulkan, kesimpulannya a,b,c,d,f karena barangkali di mata Amerika Serikat it is not about inspections tetapi it is about disarmament, conflict disarmament, ini juga persoalan yang harus kita lihat sama-sama. Kepentingan politik domestik Amerika Serikat saya tidak ingin sampaikan, paham sendiri bahwa seorang pemimpin politik selalu ingin mendapatkan amunisi mendapatkan kredit untuk keberlangsungan kekuasaanya, sah-sah saja dinegara manapun juga.

Kemudian saya kira Pak TB. Silalahi akan mengangkat dan dalam diskusi nanti, what are the real objective of attacking Irak sekarang ini dari military persfektif. Kalau dulu perang teluk 1991 saya dengar beliau juga mengadakan seminar seperti ini, waktu itu saya sedang di Amerika Serikat justru di Fourth Levenders dan saya tahu setahun saya disana bagaimana cara pandang Amerika terhadap Irak dan bagaimana war machine itu dibangun dan bagaimana strategi serta konsep operasi dikembangkan waktu itu. Sasarannya jelas membebaskan Kuwait, memukul mundur Irak dari Kuwait sampai Kuwait menjadi aman, kawasan menjadi aman one single objective.

Oleh karena itulah ketika Schwarzskopf dulu sedikit ada perbedaan harus masuk ke jantung Irak, Collin Powel tidak setuju dan itu keluar dari objective, sama dengan Mcarthur dulu ketika beliau diberhentikan oleh Thurnman, Mcarthur mengatakan tidak cukup begini harus masuk kita ke dalam ke wilayah China kalau perlu untuk menuntaskan pembendungan Komunisme waktu itu, tetapi Thurnman tidak setuju dan Mcarthur harus meninggalkan posisinya. Sangat jelas, nah sekarang apa?, sekarang ini kalau kita bicara center of gravity apa, Presiden Saddam Hussein atau tentaranya atau apanya?. Lantas kalau kita culminating point berapa lama?, ingat Amerika itu, sekarang ingin short duration, low casualties, clearcut solution”, tidak mungkin perang bertahun-tahun, jadi mesti ada culminating point kalau lewat sebulan dua bulan tidak ada penyelesaian maka akan sangat repot.

Berikutnya lagi lines of operation saya kira pembangunan stage in pages, logistic mulai dari Cannes, Hawaii, Diego Garcia sampai dengan daratan Middle East bagian dari itu semua. Nah setelah kita lihat dari itu semua, apa sebenarnya yang ingin dicapai ini, to toppel down Saddam Hussein kah? Cukup itu? Atau total distruction dari malitary basis di Irak atau senjata-senjata utama mereka ini juga menarik untuk dibedah nanti oleh Pak TB. Silalahi. Itulah kira-kira why apa interest Amerika Serikat untuk kali ini menyerang Irak.

Yang berikutnya lagi adalah, ini analisis, prediksi tidak ada yang tahu besok seperti apa, lusa seperti apa yang tau hanya Allah SWT saja. Tetapi yang bisa kita pikirkan adalah fenomena, perkembangan pengalaman empirik, logika kita bisa menganalisis sebenarnya seberapa besar kemungkinan perang itu terjadi. Paling tidak ada tiga alat analisis yang dapat kita kembangkan; pertama, mana yang lebih besar faktor pendorong atau faktor penghambat, yang kedua terjadi tidak shocks ini complain Menteri Luar Negeri Irak tadi pagi ini bisa kita baca pesawat-pesawat Inggris dan Amerika menghantam beberapa lokasi dan kalau itu dibalas dengan Air Depense Irak dan berskala besar there it’s shocks yang bisa mempercepat, yang bisa mengeraskan sikap Washington. Jadi pertama kemungkinan besar akan menyerang kalau faktor pendorong lebih besar dibandingkan faktor penghambat, kalau ada shocks insiden atau clash militer yang signifikan dan yang terakhir apabila terjadi pengerasan sikap Washington. Saudara kenal Rumsfeld, saudara kenal Paul Wolfowizt, saudara Condolessa Rice, saudara kenal Dick Cheney meskipun saudara juga kenal Colin Powel dan lain-lain tinggal mana ini The Hawk sama The Dove ini.

Elliot Cohen Pak Juwono Sudharsono” (waktu itu Pak Juwono turut mendengarkan paparan SBY - red), itu mengatakan bahwa Rumsfeld itu mungkin belum tentu Menteri Pertahanan yang baik tetapi dia seorang Menteri perang, peperangan yang baik, not Secretary of Defense but he is a true Secretary of War”, kata Elliot Cohen kita lihat saja nanti sama-sama.

Tiga analisis silahkan dikembangkan nanti faktor penghambatnya menurut saya, bagaimana peran PBB sendiri, berapa jauh PBB secara efektif mengelola konflit ini. Tidak mudah, tidak selalu sukses PBB, kemudian bagaimana sikap kurang mendukung dari negara-negara sekutu AS kecuali Inggris. Kita lihat hampir semua sekutu AS kali ini kurang medukung ini juga faktor penghambat.

Sikap kurang mendukung dari negara-negara Timur Tengah tidak sebulat ketika perang teluk 1990 - 1991 another faktor penghambat, kemudian publik opinion dalam negeri Amerika Serikat yang tidak sepenuhnya mendukung meskipun statistik mengatakan masih kuat tetapi mulai ada pergesaran pelan-pelan, kemudian akan makin terhambat serangan Amerika terhadap Irak kalau tiba-tiba ada dramatic political changes di Irak yang menguntungkan Amerika.

Saya tidak mempunyai bayangan Presiden Saddam Hussein melunakkan sikapnya terhadap Amerika Serikat, saya tidak mempunyai referensi apapun tentang itu. Saya pernah berbicara dengan beliau tahun 1999 akhir. Sekarangpun ada konfrensi di London kalau tidak salah membicarakan post Saddam Hussein Iraq, bayangkan tambah marahlah kira-kira Presiden Saddam Hussein sudah ada seminar seperti itu.

Kemudian sekali lagi yang menghambat juga apabila ada Save in Washington Stances ini menarik, coba dilihat perkembangan di Amerika sebelum medio 2002 ini unilateralisme itu sangat kuat, serang, serang serang nah setelah lewat medio 2002 mulai ada pikiran-pikiran mengapa tidak menggunakan PBB, mengapa tidak kita berpikir tanggungjawab bersama, the coalition of the feeling misalkan ya, jadi multilateralisme-lah.

Itulah faktor-faktor yang boleh jadi menghambat keinginan atau kehendak Amerika Serikat untuk menyerang Irak, kalau kita lihat faktor yang mendorong, sikap Irak yang terus terang menentang sikap AS. Minggu lalu saya berada di Tokyo dan berada di Jenewa saya menelepon Pak Hasan Wirayuda setelah saya melihat tayangan CNN dan BBC betapa Saddam Hussein melakukan penantangan habis-habisan dan disambut dengan hal yang sama dari Amerika. Saya minta Pak Menlu tolong segera kumpul teman-teman disini, ajaklah Menhan segala macam mengantisipasi, tidak usah tunggu saya karena saya masih beberapa hari lagi siapa tahu waktu saya kemarin disana terjadi sesuatu, meskipun menurut prosedur dan mekanisme Dewan Keamanan PBB tanggal 27 Januari 2003 itu baru ada laporan tim inspeksi kepada PBB tetapi anything can happen sebelum itu kalau terjadi yang saya katakan tadi.

Yang kedua wait international support terhadap Amerika tentunya untuk menyerang kalau ada itu dan yang terakhir tadi kalau ada major military clash. Itulah kalau kita ingin melihat seberapa besar serangan ini betul-betul terjadi, lihat faktor-faktor itu. Sekarang saya ingin masuk pada implikasinya yang justru menjadi substansi utama dalam seminar ini. Yang jelas dapat kita lihat pada level global, pada level regional, terutama di Middle East dari kaca mata atau dampak terhadap politik terhadap ekonomi dan lain-lain. Bisa kita susun list yang panjang tentang implikasi ini, tetapi paling tidak ditingkat PBB akan ramai sekali kalau betul-betul ada serangan kali ini ke Irak. Orang mengangkat lagi masalah international, orang akan melihat UN chapters, piagam PBB lihat tujuan PBB itu apa harus mencegah penggunaan kekuatan militer, harus masuk dulu diplomasi, mediasi segala macam seperti itu. Kemudian chapter six, chapter seven yang diatur secara rinci. Attack morality, kemudian gerakan counter unilateralism, kemudian mana yang mengakibatkan trap to international peace and security. Sudah ada Polling di Eropa betul atau tidak betul mulai ada mana yang lebih berbahaya ini Saddam Hussein atau Bush, mana aksi yang bisa threatening international peace and security, ini sudah mulai bergeser, belum tentu Saddam Hussein bisa saja Bush. Ini mengatakan bahwa akan ada debat yang luar biasa nanti pada tingkat PBB dan tingkat global.

Pada tingkat Regional, yang memahamidan mendalami tentang politik atau percaturan regional di Timur tengah maka akan terjadi political divisions yang tajam kalau Amerika benar-benar menyerang Irak antara yang pro AS dan anti AS, kemudian mungkin conflit yang tadinya hanya di Irak akan meluas dengan cepat di wilaya-wilayah yang lain, mungkin akan ada clash baru di Palestina, Israel dan Palestina dan di tempat-tempat lain dan diramalkan bisa mendisteblishing a whole region Middle East. Ingat bahwa sejarah Timur Tengah bukanlah sejarah yang penuh dengan kedamaian. Ada rivalitas, ada perbedaan aliran keagamaan, ada perbedaan etnis, ada perbedaan kedekatan dengan barat, tidak sama negara-negara itu. Itu sudah pluralisme yang apabila ada faktor baru bisa menjadi faktor disintegrasi yang sangat dasyat, itulah yang bisa terjadi.

Kemudian pada tingkat Global, global security, hampir pasti terorisme meningkat dibanyak tempat, dan hampir pasti aset Amerika, orang-orang Amerika akan menjadi sasaran terorisme baru apabila itu terjadi dan mungkin akan terjadi political upheaval atau violence di negara-negara Islam termasuk di Indonesia akan ada gelombang-gelombang protes yang luar biasa.

Nantikan Seri Terakhir......


PANDANGAN SBY MENGENAI SERANGAN AMERIKA SERIKAT KE IRAK

REFLEKSI 5 TAHUN PERANG IRAK - SERI I

Pada akhir tahun 2002, Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI) mengadakan Seminar dengan tema “Dampak (Kemungkinan) Serangan AS – Ke Irak dalam Bidang Politik Keamanan dan Ekonomi” bekerja sama dengan Lembaga Pengkajian Strategis Indonesia (LPSI) yang saat itu dipimpin oleh Rudini dan TB. Silalahi. Seminar itu diadakan sebelum serangan Amerika Serikat ke Irak yang waktu itu masih prokontra apakah perlu atau tidak.

Sebenarnya seminar ini adalah nostalgia TB. Silalahi yang pada serangan AS pertama tahun 1990 TB. Silalahi memprediksi dan menganalisis serangan Amerika ke Irak yang dipimpin oleh Goerge Bush senior ayah Goerge W. Bush dengan sangat akurat di Harian Sore Suara Pembaharuan.

Bekerjasama dengan PDBI diadakanlah seminar membahas dampak serangan AS ke Irak serta pengaruhnya pada Politik dan Perekonomian Indonesia. Saat itu keynote speakernya adalah Susilo Bambang Yudhoyono yang saat itu menjabat Menteri Pertahanan dan Politik di Kabinet Megawati. Bagi saya, itu adalah pertama kali melihat dan bersalaman secara langsung dengan SBY yang berpostur tinggi gede, dan ganteng. Saya menyambutnya di Lobby Hotel Borobudur dan memandunya ke ruang tempat seminar yang dihadiri kurang lebih 300 orang. Dalam seminar itu ada Juwono Sudharsono, Christianto Wibisono teleconference dari AS dan moderatornya adalah Sabam Siagian, sedangkan ekonom ada Pande Raja Silalahi dari CSIS dan Dr. Sri Adingsih dari UGM.

Semua peserta tertegun mendengar pidato SBY yang kala itu persis seperti kuliah umum, dan waktu yang diberikan hampir satu jam, tetapi yang saya lihat tidak ada tanda-tanda kebosanan dari peserta yang rata-rata kalangan pers, tokoh politik, ekonom dan pengusaha. Waktu itu saya sendiri terkagum-kagum dan memuji dalam hati betapa pintarnya beliau ini. Kata-katanya tegas, intonasi suaranya tertata rapi, sehingga waktu yang hampir satu jam itu berlalu dengan begitu cepat. Beda dengan pembicara lainya yang menyusul kemudian terasa lebih lama dengan porsi waktu yang lebih sedikit.

Berikut ini adalah kutipan langsung pidato SBY:

Assalamualaikum Warah Matullahi Wabarkatu

Selamat pagi, Salam sejahtera.

Yang saya hormati, Bapak Rudini, Bapak Juwono Sudarsono, Bapak TB. Silalahi, Bapak Sabam Siagian, Hadirin peserta seminar yang berbahagia. Pada kesempatan yang baik dan semoga senantiasa penuh berkah ini, ijinkan saya mengajak hadirin sekalian untuk memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan yang Maha Kuasa Allah Syubahana Wata Allah atas rahmat dan ridonya kita dapat bertemu untuk berdialog dan berdiskusi atas sebuah topik yang menurut saya sangat penting, “Dampak (Kemungkinan) Serangan AS terhadap Irak terhadap Politik, Keamanan dan Ekonomi Indonesia.

Tadi waktu kami bercakap-cakap di ruang tunggu saya laporkan kepada beliau semua (Pak Rudini, TB. Silalahi, Juwono Sudarsono – red) tentu saya akan datang dan Alhamdulillah saya bersama dengan hadirin sekalian dalam seminar ini karena dua hal: yang pertama, topiknya sangat timely (tepat), sebagai sebuah antisipasi terhadap langkah-langkah pada tingkat global yang memiliki implikasi dan pengaruh kepada keadaan dalam negeri kita, yang kedua saya katakan, yang mengundang para senior saya. Jadi kewajiban saya untuk datang, dan yang hadir juga sahabat-sahabat saya disini, saya kira forum yang baik untuk saling bertukar pikiran dan berdiskusi.

Hadirin sekalian yang saya hormati.., tentu saya akan menyampaikan pandangan-pandangan yang sifatnya sangat umum karena saya tahu nanti ada kupasan-kupasan yang lebih spesifik. Pak Juwono saya baca disitu akan mengupas dalam dimensi global tatanan dunia kalau terjadi serangan Amerika terhadap Irak, Pak TB Silalahi akan melihat dari perspektif Strategi Militer, strategi perang kurang lebih begitu, lantas Ibu Sri Adiningsih akan melihat bagaimana implikasinya terhadap dunia usaha di Indonesia dan Bung Cristianto Wibisono kalau tidak keliru akan mengangkat, memotret bagaimana sebenarnya opini publik di Amerika sendiri. Saya kira kumpulan dari pandangan-pandangan spesipik itu akan sangat berguna untuk mengkonstruksikan sebenarnya apa yang akan terjadi nanti kalau betul-betul Amerika akan menyerang Irak.

Dan yang lebih penting implikasi terhadap Indonesia. Saya hanya ingin menyampaikan pikiran yang sederhana dan yang saya sampaikan ini, rekan-rekan, hadirin yang saya hormati adalah tentunya pengamatan seorang praktisi dimana saya bersama teman-teman di kabinet ikut juga menggarap kebijakan luar negeri Indonesia terutama tiga tahun terakhir ini, terutama sekali saya memiliki pengalaman empirik bagaimana respon posisi Indonesia ketika Amerika Serikat menyerang Afghanistan beberapa bulan yang lalu dan kemudian, saya punya pengalaman pribadi waktu bertemu dengan Presiden Saddam Hussein waktu saya menjadi Menteri Pertambangan dan Energi. Satu setengah jam saya berbicara dengan beliau, saya paham betul what’s in his mind sebetulnya dan kemudian, tentu kami juga punya pengalaman bertemu dengan Presiden Bush. Tanpa bertemupun saya kira saya sudah tahu apa yang ada dalam pikiran Presiden Bush, memandang dunia, memandang Irak, memandang persoalan terorisme pada tingkat global.

Ada beberapa agenda yang secara singkat ingin saya kedepankan sekali lagi sebagai salah satu rujukan, karena selebihnya akan dibedah nanti secara lebih kongkrit dan lebih mendalam pada masing-masing sesi. Tetapi agenda-agenda ini perlu saya kedepankan untuk memastikan bahwa yang kita lihat ini utuh, melihat masalah harus komprehensif, agar kalau kita ingin mencari opsi atau solusi juga komprehensif.

Sebagai pengantar saya ingin mengajak hadirin sekalian untuk mencoba memahami sebenarnya fenomena atau perilaku kedua negara ini. Amerika Serikat termasuk fenomena dan perilaku Irak dibawah Saddam Hussein. Pemahaman kita terhadap sosok kedua negara ini penting, nanti ketika kedua bangsa ini terlibat dalam suatu peperangan katakanlah, atau interaksi diantara kedua karakter dan perilaku Amerika Serikat dan Irak. Kalau saya sedikit mundur review saja sebenarnya apa yang dilakukan Amerika sekarang ini sangat dipengaruhi oleh dua perubahan besar pada tingkat dunia, pada abad XX ini.

Kita ketahui bahwa pada abad XX paling tidak ada tiga historical discontinuities atau shocks yang mengubah jalannya peradaban, kebudayaan dan perkembangan negara-negara di tingkat global. Shocks yang pertama ketika bom atom dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki. Berubah total bagaimana sistem, konsep dan doktrin pertahanan. Shocks yang kedua ketika tembok Berlin runtuh, berubah total anatomi konflik pada tingkat dunia. Shocks yang ketiga ketika WTC rontok, nah yang dilakukan Amerika sekarang ini atau bagaimana perilaku Amerika sangat dipengaruhi oleh dua tonggak terakhir. Runtuhnya tembok Berlin dimana universal values menjadi sebuah keniscayaan dan Amerika memelopori untuk memberikan sanksi kepada warga dunia yang menolak universal values sehingga disebut inforceable universal values dan kemudian pasca 11 September Amerika juga yang memelopori gerakan sedunia untuk campaign against terrorism. Melihat Amerika, memandang Irak sekarang ini harus paling tidak diletakkan dalam dua dimensi itu.

Hadirin sekalian yang saya hormati, menarik saya menganjurkan ada beberapa buku yang terbit tahun 2002 ini, yang kalau ada waktu senggang bisa dibaca secara cepat. Tetapi untuk mengerti lebih dalam lagi sebenarnya, bagaimana letak Amerika dalam percaturan global ini, bagaimana negara dan bangsa lain memandang Amerika dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Yang pertama saya catat disini ada buku yang berjudul “The Paradoks of American Powers”. Why the world only superpower cannot go it alone?, ini tulisan Joseph Nail Jr. Intinya, Amerika meskipun anda kuat masuklah dalam rambu-rambu multilateralisme jangan melaksanakan langkah-langkah sepihak unilateralis.

Yang kedua “The end of American Era”. US foreign policy and the Geopolitic of 21­­­­st Century ini sama Charles Kutchen mengatakan bahwa Internasionalisme Amerika toh juga ada batasnya apalagi sekarang Amerika bukan menghadapi Timur Tengah saja, bukan menghadapi Asia Timur saja, tetapi juga menghadapi Eropa, New Integrated Europe yang boleh jadi tidak selalu sama pandanganya dengan Amerika. Amerika diingatkan dalam buku ini.

Buku yang ketiga adalah “The hight cost of peace”. How Washington middleeast policy left America vulnarable to terrorism, saya kira jelas sekali tanpa saya jelaskan sangat bisa dibayangkan isi buku ini. Kemudian buku yang populer saya kira di semua toko buku ada, Why do people hate America?, menarik ini terbitan 2002, kemudian yang terakhir ini mungkin bisa dilihat “What does the World Want from America?, the international persfectif on US foreign policy, ini kumpulan tulisan tetapi menarik disitu bahwa dunia itu mengharapkan Amerika itu sebagai global partners bukan global cop, bukan polisi dunia.

Bangsa lain mengharapkan justice for all berlaku juga bagi negara-negara besar termasuk Amerika, ada yang berpendirian Amerika sebaiknya jangan meletakkan sebagai komandan tetapi harus masuk first among equals, diakui bahwa Amerika kuat secara politik sangat berpengaruh, kuat secara ekonomi, kuat secara militer namun demikian lebih bagus seperti kata tadi itu first among equals sehingga nyaman hubungan dengan negara-negara lain. Ini sekedar overview untuk melihat gambar besar suatu Dinamic of International Politic, dengan era baru pasca perang dingin dan pasca runtuhnya WTC di New York.

Hadirin yang saya hormati ada beberapa agenda yang secara sangat-sangat singkat akan saya sampaikan yang pertama, kalau kita ingin membedah bagaimana dampak serangan Amerika Serikat ke Irak terhadap politik, kemanan dan ekonomi Indonesia maka, yang harus kita pahami perkembangan terkini baik itu di Irak, di Amerika maupun pada tingkat dunia. Dan kita ingat ini terus-terus berkembang, very dinamic. Yang kedua, sebenarnya mengapa dan apa kepentingan Amerika Serikat menyerang Irak, jangan keliru kita.. Floswizt mengatakan guru saya pak TB. Silalahi!, War is a continuation of politics by other means, Pak Juwono sudah sering mengatakan hal seperti itu. Betulkah ini kepanjangan dari politik Amerika Serikat atau ada faktor-faktor yang lain. Yang ketiga seberapa besar kemungkinan Amerika Serikat menyerang Irak?.

To be continue……………….

Senin, 28 Juli 2008

PERTARUNGAN TERAKHIR MEGAWATI

Perkembangan demokrasi di Indonesia tidak lepas dari peran Megawati dan pendukungnya, yang menjadi salah satu kekuatan utama yang menggulirkan isu demokrasi di Indonesia pada saat kekuasaan Soeharto masih berada dipuncak kejayaanya. Tahun 1996-1998 merupakan fase dimana kekuatan lain menyusul seperti mahasiswa, tokoh pro-demokrasi dan gerakan bawah tanah sampai kemudian elemen ini mendapat dukungan mayoritas masyarakat sehingga mampu menjungkalkan kekuasaan despot Soeharto.

Bergabung dengan PDI pada tahun 1987 dan menjadi anggota DPR, kekuasaan mulai mengkuatirkan eksistensinya lewat berbagai manuver yang memaksanya kehilangan hak sebagai Ketua Umum PDI lewat kongres Medan yang mengusung Suryadi menjadi ketua lewat campur tangan pemerintah yang sangat kentara. Konflit itu berujung pada peristiwa 27 Juli 1996 yang menelan banyak korban tetapi juga menjadi titik balik bagi Megawati, karena sejak peristiwa itu simpati masyarakat mengalir kepadanya dan berujung pada pembentukan PDIP pada tahun 1999.

Periode 1999 – 2009 inilah efektif bagi Megawati menjadi pemimpin partai yang bebas dari intimidasi pihak ketiga. Ia gagal menjadi presiden di gedung MPR sekalipun ia dan partainya memenangkan pemilu 1999. Lewat berbagai manuver, elit politik mengganjalnya sehingga hanya menjadi wakil presiden, kemudian naik kepuncak setelah DPR/MPR berhasil meng-impeach Gusdur tahun 2001. Sebuah pertobatan politik parlemen!.

Menjadi presiden selama kurang lebih 3 tahun sebenarnya banyak kemajuan yang ditorehkan oleh pemerintahanya, ia mewarisi keadaan ekonomi yang semrawut dan pelik, ditengah aggaran yang depisit dan pertumbuhan ekonomi stagnan, campur tangan IMF lewat LOI dan investor yang enggan melirik Indonesia sehabis dibantai berbagai kerusuhan berdarah, ledakan bom dan perang antar suku. Megawati perlahan-lahan bisa membenahi benang kusut itu, terutama dalam bidang ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang diwarisi Mega tahun 2001 dari Gusdur hanya 3,3% dan dimasa akhir jabatanya pertumbuhan ekonomi mencapai 5.13% dengan rata-rata pertumbuhan selama kurang lebih 4 tahun mencapai 4% per tahun.

Tetapi kebijakan ekonomi-nya cenderung liberal. Terbukti dari penjualan Indosat ke Temasek, penjualan BCA ke Farallon, BII dan Bank Lippo ke BUMN Malaysia dan Bank Permata ke Stanchart, perkebunan kelapa sawit berpindah tangan ke Malaysia. Hal inilah yang digunakan oleh lawan politik Mega untuk mendiskreditkan – nya pada kampaye pemilu 2004. Ia yang dijuluki sebagai pemimpin wong cilik pada pemilu 1999 diubah menjadi penjual asset Negara.

Pertumbuhan ekonomi yang stabil, peningkatan harga saham-saham, inflasi yang terjaga di satu digit, arus investasi yang mulai masuk, tidak disertai dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat pada umumnya. Jadi pertumbuhan itu tidak menyentuh sector riil kata pengamat ekonomi, pers secara perlahan-lahan mulai mengupas kritis setiap kebijakanya disertai dengan banyaknya anggota partainya di DPRD yang harus berurusan dengan pengadilan karena tuduhan korupsi.

Kelebihan Megawati

Pertama Konsisten, apa yang sudah diputuskannya tidak akan diubahnya, misalnya isu resufle menggema diakhir masa jabatanya tetapi ia terus bertahan, ia menghormati koalisi partai yang terbentuk pasca tergulingnya Gusdur dari pemerintahan. Pembangunan Tol Jakarta – Bandung “dipaksa” selesai sebelum pemilu 2004. Sekarang orang bisa lalu lalang Jakarta – Bandung hanya dalam hitungan 2,4 jam yang sebelumnya menempuh waktu 3 sampai empat jam. Keputusan menjual Indosat dan asset strategis lainya misalnya juga konsisten demi mengubah citra Indonesia dimata Investor yang berada pada titik yang paling rendah. Pasca kebijakan itu IHSG misalnya bisa menembus angka 1.800 pada akhir masa jabatannya dan keputusan itu berpengaruh terhadap keadaan bursa sampai pemerintahan SBY – JK yang terus mengukir rekor-rekor baru.

Jadi masa pemerintahan Megawati sekaligus menunjukkan kepada lawan politiknya bahwa dia tidak sekedar ibu rumah tangga, juga bukan sekedar mengandalkan kharisma Soekarno yang melekat dalam dirinya. Ia bisa memimpin bangsa yang penuh dengan warisan permasalahan, setidaknya ia bisa menata ekonomi dan mewariskannya kepada pemimpin berikutnya dengan keadaan stabil.

Kedua, dia seorang pemimpin yang taat pada aturan main yang disepakati bersama, seperti pernah ditulis oleh Budiarto Shambazy, tipe-tipe pemimpin di Indonesia senang mengulur-ulur kekuasaan di tangannya dengan berbagai cara kecuali Megawati. Ia legowo menerima kekalahan dalam pertarungan yang fair dan kemudian berkompetisi lagi dengan mengikuti aturan yang sudah disepakati bersama. Ini sudah terbukti sejak zaman orde baru, dikala setiap orang pesimis dengan pengadilan ia dan pedukungnya masih memilih jalur pengadilan untuk menuntut hak-haknya yang dilanggar kekuasaan. Mega konsisten bahwa lembaga hukum harus diberi kepercayaan walaupun ia dikooptasi oleh kekuasaan.

Ketiga, ketika Mega kalah dalam pemilu pilpres 2004, ia memilih menjadi oposan yang fair tidak membusuki pemerintahan tetapi mengkritik secara proporsional. Sejak itu Mega aktif membangun kekuatan, mengkonsolidasi mesin partai dari pusat ke daerah, mengamati dengan detail semua kebijakan pemerintah. Mengkritiknya sesekali dan memilih untuk bertarung merebut kursi eksekutif lewat pilkada di propinsi, kotamadya dan kabupaten ketimbang ikut dalam kabinet. Hasilnya, menggembirakan dari 27 pilkada tingkat propinsi per Juli 2008, PDIP menang 14 kali. Seperti pernah diucapkan Megawati setelah pilkada Bali dimenangkan oleh calon dari PDIP, “dengan hasil pilkada yang dicapai saat ini PDIP semakin percaya diri menjelang Pemilu legislative dan presiden tahun 2009”.

Beberapa kebijakan SBY – JK yang cukup mendapat perlawanan dari PDIP adalah masalah Aceh, Impor Beras, kebijakan luar negeri Indonesia yang abstain terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB terhadap pengayaan nuklir Iran, kenaikan BBM tahun 2005 & 2008.

Selain itu Megawati sendiri aktif mengkritisi kebijakan SBY – JK, seperti pernyataan “Tebar Pesona”, “Tari Poco”, “Bercita-cita setinggi gunung, tetapi pencapaian setinggi bukit”. Kritik ini menjadi headlines di media massa dan populer menjadi wacana umum, sekaligus mendapat tanggapan beragam baik dari pemerintah maupun dari partai Demokrat yang mengusung SBY menjadi presiden.

Ada beberapa ciri khas yang gampang diingat dari figur seorang Megawati, Ia jarang mengeluarkan pendapat, terkesan kurang cakap dalam berbicara, tetapi Ia punya kharisma, punya pengaruh dan seorang yang kata-katanya dipegang oleh pengikutnya, dijadikan sebagai panutan dan dipuja, terutama masyarakat kalangan bawah. Bagi kelompok menengah atas Megawati adalah seorang yang tidak capabel untuk memimpin, dipersepsikan tidak pintar.

Ini tercermin dari setiap komentar pembaca di www.kompas.com dan www.detik.com setiap ada berita mengenai Megawati, 7 dari 10 pembaca memberi komentar negatif. Ini mengindikasikan bahwa kelompok masyarakat yang melek internet adalah kalangan pekerja kantoran dan kelompok masyarakat yang berpendidikan. Jadi basis pendukung Mega adalah kelompok menengah bawah. Tetapi kelompok ini populasinya adalah yang terbesar di Negara ini. Kalau kelompok ini bisa direbut melalui pencitraan sebagai pemimpin pro rakyat bisa saja Megawati akan kembali menjadi presiden pada tahun 2009.

Sikap konsisten, nasionalis, kharisma pemersatu menjadikan Mega seperti dewa bagi PDIP dan pendukungnya. Maka keputusan rapimnas PDIP di Semarang yang mencalonkan Mega sebagai calon Presiden PDIP 2009 bukanlah keputusan elit PDIP semata tetapi tuntutan dari bawah. Kader-kader PDIP menganggap bahwa seharusnya Mega tidak kalah dalam pilpres 2004, dan wajar kalau semua kader PDIP berjibaku untuk mengusungnya kembali sekalipun dengan resiko kekalahan. Ini seperti persembahan terakhir bagi seorang dewa yang sedang bertarung untuk merebut kekuasaan, maka harus didukung habis-habisan dan kalaupun harus kalah setidaknya mereka kalah secara terhormat.

Dalam politik Megawati itu seperti senjata, suatu ketika kehabisan peluru., tetapi setelah diisi (baca: reload) senjata akan kembali kebentuk awalnya, menerjang sasarannya!

Ia akan bertarung untuk yang terakhir kalinya pada pilpres 2009, cukup sulit baginya dan pendukungnya tetapi juga bukan pekerjaan mustahil bagi “banteng-banteng” untuk mendudukkan ibunya ke tahta kekuasaan. Ia sudah terbukti tidak kalah dengan orang yang sangat pintar menurut persepsi pemilih untuk SBY. Tetapi lawan politiknya juga tidak tidur, berbagai manuver sudah disiapkan mulai dari isu pemimpin muda, permasalahan gender, dan posisi SBY yang masih sangat populer di mata rakyat. Di Legislatif mungkin PDIP lebih mudah memenangkan pemilu tetapi dalam Pilpres harus dihitung lagi.